Posts

Showing posts from September, 2015

Gak ada kamu, gak asyik

Hari ini, mendung bak kelabu Suara yang khas, langkah kaki familiar Pun senandung-senandung pagi yang begitu melekat di benakku Jam demi jam kutiti dalam sepi, bisu di sanubari Sejenak aku terhenyak, kurasa matahari tengah hilang selasa ini Setelahnya aku tersentak, bukankah aku begini karna tak menjumpaimu empat hari ini? Mendengar suaramu semalam yang bak petik gitar menentramkan itu, seolah rancu, aku ingin mendengarnya lagi darimu Lagi dan lagi, seolah aku tak mau berhenti Kau membuatku tersenyum di pagi hambar ini, setidaknya apakah kau tau, perhatianmu itu, telah menumbuhkan satu bunga lagi di hatiku? Sadarkah kau akan semua itu? Dan ya, setidaknya, gak ada kamu itu, gak asyik, Mas. Setelahnya aku tersentak, bukankah aku begini karna tak menjumpaimu empat hari ini?

Dan mengagumimu memang takkan pernah mudah.

Resah yang membuncah, berjejal mengungguli untuk terpuruk atau mati. Luluhku lemah, ingin rasa memelukmu, namun agaknya lenganku kaku berbatu-batu. Aku hanya bisa menatapmu, merengkuhmu melalui manik mataku, mengagumimu seolah gundah, berpura tak peduli seolah kau tak berarti. Dan itu semua takkan pernah mudah, Purnama.