Posts

Cuan Rupiah Cepat

Image
Siapa sih yang nggak mau gratisan? Apalagi yang instan dan gampang. Nih ada satu aplikasi pinjol yang kasih event menggiurkan. Sekali login bisa dapetin sampai 40rb lho! Oh ya, nggak perlu khawatir untuk daftar, karena ini aplikasi "Rupiah Cepat", sudah pernah dengar kan? Kalau saya sih udah, karena sering wira wiri browsing soal pinjol 😅 Aplikasi ini juga sudah terdaftar di OJK, jadi tenang ajah data terjamin Nih, awal join saya dpt segini Mau ikutan juga? Gampang kok. 1. Buka link ini : Daftar dan langsung dapat Rp 40.000 TUNAI!   Rupiah Cepat 2. Download appsnya 3. Daftar dan isi data-data yang diminta 4. Jika sudah berhasil, masuk ke halaman "Aktifitas" 5. Klik gambar yang saya lingkari ini : 6. Terakhir, tinggal lakuin aja tugas yang harus diselesaikan 😇 Mudah kan? Yuk share share share dan dapatkan cuannya 🎉🎉

Kupikir, tidak ada yang salah waktu itu

Hari ini, 07 Juli 2019 Pagi yang lumayan sejuk di Kotaku yang Malang. Aku terbangun dari tidur saat kudengar suara kecil malaikat mungil yang tengah asyik menggeliat di antara selimutnya. Sudah waktunya untuk mengganti alas ompol. Sembari mengoleskan air ke tubuh Rara, sekelebat imajinasi muncul entah dari mana. Tetiba saja aku teringat seseorang yang pernah singgah dalam ranah mimpiku dulu. Bukan, bukan karena aku merindukannya, hanya karena aku teringat usiaku sekarang yang hampir menginjak 23 tahun. Aku merasa 'cukup' dewasa dalam ukuran otak seorang wanita. Yang membuat memori itu terbersit sesaat adalah, bukannya saat itu usianya hampir sama dengan usiaku? Saat aku duduk di bangku kelas 2 SMK, dia 22. Bukankah pemikirannya mungkin tidak jauh berbeda denganku saat ini? Memutuskan menggandengku lalu meninggalkanku dengan yang lain, bukankah dia berpikir dengan otak di usia ini? Iya, seketika, aku merasa masih sangat belia, tak salah juga dia berpikiran singkat seperti itu...

Seperti ada, namun tiada

Rasanya aku tengah diuji sedemikian rupa. Dibolak-balik dan dijunjung, lalu dihempas. Rasanya sudah tiada lagi tenaga untukku sempat berpikir tentang bahagia. Sebenarnya aku sendiri tengah menduga-duga, apa yang membuat hatiku begitu tak terkontrol? Kemana aku yang dulu kuat, apa aku begitu cengengnya hingga hanya ada air mata untuk kusesali? Sesal? Bahkan tak ada satu sesalpun yang mampu membuatku mengerti. Ini bukan ranah tanggung jawabku. Yang ada, aku hanya merasa diombang-ambing. Mungkin benar, banyak yang merasa tidak nyaman disana. Itu bukan tempat yang mampu membuatku merasa pantas. Tapi hutang yang begitu besar dari tanggung jawab moral ku ada di tempat itu. Lantas bagaimana aku bisa melepaskan diri? Belum lagi beban hidup, bahkan pasanganku saja masih ada di ambang keabu-abuan profesi. Rasanya, aku masih bekerja, namun sekaligus diberhentikan. Anggap saja job desk ku hilang, lalu aku tinggal menyesuaikan diri di tempat itu. Apa susahnya? Nyatanya, hidup tak semu...

Dua Belas

Mencari dua belas yang hilang ternyata tidak semudah itu. Butuh effort yang sangat besar untuk menyelesaikan semuanya. Memberesi yang telah usai dan bersiap bangkit kembali, menelusuri tiap hati yang kiranya dapat disinggahi. Semuanya serba kebetulan, atau mungkin aku saja yang terlalu membesar-besarkan? Tiba-tiba 12 itu berputar-putar di antara bara api. Yakinku membunuhku, kebetulan yang diselami ketidakpastian agaknya menenggelamkanku begitu dalam, pada sesi 'gagal melupakan'. Cerita ini bukan lagi tentang fajar pagi yang pernah singgah lalu pergi, namun tentang rembulan yang pernah mencoba tinggal, mempermainkan hatiku yang tunggal, hingga menjadikannya tanggal. Setahun lamanya aku mencoba memendam rasa, bertemu dengan calon pematah-pematah baru. Hanya mencoba menghilangkan duka, seperti malam yang menangis kepada bintang saat rembulan tak lagi datang. Hingga aku berhasil menutup sayatan itu, mengkamuflasekan lubang dalam senyuman, mencoba tidak membubuhi garam, meski...

Love left

Kupikir, senja hari ini terlalu cerah. Kontras sekali dengan warna hatiku yang mungkin kelabu, atau ungu, atau biru, atau senada dengan deretan warna kelam lainnya. Aku tak tahu. Ya, aku tak tahu kondisi hatiku saat ini. Singkat saja, aku tak sedang mengharapkan siapa-siapa. Bagiku lebih baik begini daripada disakiti oleh hujan dan api. Panas dingin dalam derita yang tak nampak. Meski saat ini, rasanya aku hidup, tapi mati. Tak apa, mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu di senjakala, entah dengan siapa, kuberanikan saja berkata 'kita'. Aku yakin, suatu saat, kau yang diciptakan untuk menemaniku menikmati hujan, tak akan membiarkanku dimakan kesendirian. Kau akan datang, saat tubuhku sudah separuh jalan dalam gigitan rayap-rayap pemangsa kebahagiaan. Kala itu, aku akan hidup kembali. Kala itu, aku akan tertawa lagi. When my heart start to freeze , I don't have any love left , any .

Merindukan Purnama

Image
Merindukan purnama Bertahan walau di dalam duka Bersyukurnyalah kita   Masih banyak yang sayangi kita Merindukan purnama Meraih cinta   Cinta yang menyatukan kita Merindukan Purnama, iya, Purnama Satu nama yang mampu mengguncangku untuk kembali mengalami berbagai macam rasa dan kecewa. Menenggelamkanku pada berjuta kekecewaan yang kian mendera. Cukup satu lirik saja, pikiranku melayang jauh. Menuju suatu masa dimana aku dan kau masih berbayang "KITA". Suatu masa yang di dalamnya hanya ada tawa dan canda bahagia, tanpa air mata. Bayangan penuh luka, meski manis bagaikan gula. Karena kini aku hanya bisa menikmati sakitnya, terlebih lagi, kau punya dia. Bagaimana mungkin aku membuang rasa apabila hanya ada namamu saja dalam hati kecilku? Rasa ini kian membuncah, meski logika ku berkata untuk BERHENTI. Namun aku sadar, aku harus tetap berjalan. Menghinggapi setiap hati yang layak disinggahi. Mencari pelabuhan abadi tanpa mengenang akan patah hati. Karena hidu...

Sesakku, Laraku. Sekedar untuk menjaga hatiku.

Ah sudahlah, tak ada habisnya jika aku masih tetap bertanya-tanya. Karna diam mu takkan ada ujungnya. Aku paham pengecutmu. Sesak yang menghimpit, tubuh yang tiba-tiba layu, inginmu untuk luruh, bergerakpun kau tak mampu, sesuatu yang sangat mencengkram, menunggu untuk dilepaskan. Jantung yang berpacu kencang,   seolah terhenti. Benar-benar berhenti, sampai kau merasa waktu tak lagi berputar. Pernahkah kau seperti itu? Ya, aku pernah. Hari ini, aku merasakannya, saat melihatmu, saat merasakan dirimu mendekat, melewatiku dan membisu tanpa ragu. Ya, aku merasakannya. ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Aku tak pernah seperti ini sebelumnya, sungguhpun aku merasa sesak, kehancuranku tak pernah separah ini. Bagaimana tidak, jika aku terus dipaksa melupakanmu, berhenti mencintai dirimu, s...