Posts

Showing posts from 2016

Dua Belas

Mencari dua belas yang hilang ternyata tidak semudah itu. Butuh effort yang sangat besar untuk menyelesaikan semuanya. Memberesi yang telah usai dan bersiap bangkit kembali, menelusuri tiap hati yang kiranya dapat disinggahi. Semuanya serba kebetulan, atau mungkin aku saja yang terlalu membesar-besarkan? Tiba-tiba 12 itu berputar-putar di antara bara api. Yakinku membunuhku, kebetulan yang diselami ketidakpastian agaknya menenggelamkanku begitu dalam, pada sesi 'gagal melupakan'. Cerita ini bukan lagi tentang fajar pagi yang pernah singgah lalu pergi, namun tentang rembulan yang pernah mencoba tinggal, mempermainkan hatiku yang tunggal, hingga menjadikannya tanggal. Setahun lamanya aku mencoba memendam rasa, bertemu dengan calon pematah-pematah baru. Hanya mencoba menghilangkan duka, seperti malam yang menangis kepada bintang saat rembulan tak lagi datang. Hingga aku berhasil menutup sayatan itu, mengkamuflasekan lubang dalam senyuman, mencoba tidak membubuhi garam, meski...

Love left

Kupikir, senja hari ini terlalu cerah. Kontras sekali dengan warna hatiku yang mungkin kelabu, atau ungu, atau biru, atau senada dengan deretan warna kelam lainnya. Aku tak tahu. Ya, aku tak tahu kondisi hatiku saat ini. Singkat saja, aku tak sedang mengharapkan siapa-siapa. Bagiku lebih baik begini daripada disakiti oleh hujan dan api. Panas dingin dalam derita yang tak nampak. Meski saat ini, rasanya aku hidup, tapi mati. Tak apa, mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu di senjakala, entah dengan siapa, kuberanikan saja berkata 'kita'. Aku yakin, suatu saat, kau yang diciptakan untuk menemaniku menikmati hujan, tak akan membiarkanku dimakan kesendirian. Kau akan datang, saat tubuhku sudah separuh jalan dalam gigitan rayap-rayap pemangsa kebahagiaan. Kala itu, aku akan hidup kembali. Kala itu, aku akan tertawa lagi. When my heart start to freeze , I don't have any love left , any .

Merindukan Purnama

Image
Merindukan purnama Bertahan walau di dalam duka Bersyukurnyalah kita   Masih banyak yang sayangi kita Merindukan purnama Meraih cinta   Cinta yang menyatukan kita Merindukan Purnama, iya, Purnama Satu nama yang mampu mengguncangku untuk kembali mengalami berbagai macam rasa dan kecewa. Menenggelamkanku pada berjuta kekecewaan yang kian mendera. Cukup satu lirik saja, pikiranku melayang jauh. Menuju suatu masa dimana aku dan kau masih berbayang "KITA". Suatu masa yang di dalamnya hanya ada tawa dan canda bahagia, tanpa air mata. Bayangan penuh luka, meski manis bagaikan gula. Karena kini aku hanya bisa menikmati sakitnya, terlebih lagi, kau punya dia. Bagaimana mungkin aku membuang rasa apabila hanya ada namamu saja dalam hati kecilku? Rasa ini kian membuncah, meski logika ku berkata untuk BERHENTI. Namun aku sadar, aku harus tetap berjalan. Menghinggapi setiap hati yang layak disinggahi. Mencari pelabuhan abadi tanpa mengenang akan patah hati. Karena hidu...

Sesakku, Laraku. Sekedar untuk menjaga hatiku.

Ah sudahlah, tak ada habisnya jika aku masih tetap bertanya-tanya. Karna diam mu takkan ada ujungnya. Aku paham pengecutmu. Sesak yang menghimpit, tubuh yang tiba-tiba layu, inginmu untuk luruh, bergerakpun kau tak mampu, sesuatu yang sangat mencengkram, menunggu untuk dilepaskan. Jantung yang berpacu kencang,   seolah terhenti. Benar-benar berhenti, sampai kau merasa waktu tak lagi berputar. Pernahkah kau seperti itu? Ya, aku pernah. Hari ini, aku merasakannya, saat melihatmu, saat merasakan dirimu mendekat, melewatiku dan membisu tanpa ragu. Ya, aku merasakannya. ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Aku tak pernah seperti ini sebelumnya, sungguhpun aku merasa sesak, kehancuranku tak pernah separah ini. Bagaimana tidak, jika aku terus dipaksa melupakanmu, berhenti mencintai dirimu, s...