Dua Belas
Mencari dua belas yang hilang ternyata tidak semudah itu. Butuh effort yang sangat besar untuk menyelesaikan semuanya. Memberesi yang telah usai dan bersiap bangkit kembali, menelusuri tiap hati yang kiranya dapat disinggahi. Semuanya serba kebetulan, atau mungkin aku saja yang terlalu membesar-besarkan? Tiba-tiba 12 itu berputar-putar di antara bara api. Yakinku membunuhku, kebetulan yang diselami ketidakpastian agaknya menenggelamkanku begitu dalam, pada sesi 'gagal melupakan'. Cerita ini bukan lagi tentang fajar pagi yang pernah singgah lalu pergi, namun tentang rembulan yang pernah mencoba tinggal, mempermainkan hatiku yang tunggal, hingga menjadikannya tanggal. Setahun lamanya aku mencoba memendam rasa, bertemu dengan calon pematah-pematah baru. Hanya mencoba menghilangkan duka, seperti malam yang menangis kepada bintang saat rembulan tak lagi datang. Hingga aku berhasil menutup sayatan itu, mengkamuflasekan lubang dalam senyuman, mencoba tidak membubuhi garam, meski...