Seperti ada, namun tiada
Rasanya aku tengah diuji sedemikian rupa. Dibolak-balik dan dijunjung, lalu dihempas. Rasanya sudah tiada lagi tenaga untukku sempat berpikir tentang bahagia. Sebenarnya aku sendiri tengah menduga-duga, apa yang membuat hatiku begitu tak terkontrol? Kemana aku yang dulu kuat, apa aku begitu cengengnya hingga hanya ada air mata untuk kusesali? Sesal? Bahkan tak ada satu sesalpun yang mampu membuatku mengerti. Ini bukan ranah tanggung jawabku. Yang ada, aku hanya merasa diombang-ambing. Mungkin benar, banyak yang merasa tidak nyaman disana. Itu bukan tempat yang mampu membuatku merasa pantas. Tapi hutang yang begitu besar dari tanggung jawab moral ku ada di tempat itu. Lantas bagaimana aku bisa melepaskan diri? Belum lagi beban hidup, bahkan pasanganku saja masih ada di ambang keabu-abuan profesi. Rasanya, aku masih bekerja, namun sekaligus diberhentikan. Anggap saja job desk ku hilang, lalu aku tinggal menyesuaikan diri di tempat itu. Apa susahnya? Nyatanya, hidup tak semu...