Dua Belas

Mencari dua belas yang hilang ternyata tidak semudah itu. Butuh effort yang sangat besar untuk menyelesaikan semuanya. Memberesi yang telah usai dan bersiap bangkit kembali, menelusuri tiap hati yang kiranya dapat disinggahi.

Semuanya serba kebetulan, atau mungkin aku saja yang terlalu membesar-besarkan?

Tiba-tiba 12 itu berputar-putar di antara bara api. Yakinku membunuhku, kebetulan yang diselami ketidakpastian agaknya menenggelamkanku begitu dalam, pada sesi 'gagal melupakan'.

Cerita ini bukan lagi tentang fajar pagi yang pernah singgah lalu pergi, namun tentang rembulan yang pernah mencoba tinggal, mempermainkan hatiku yang tunggal, hingga menjadikannya tanggal.

Setahun lamanya aku mencoba memendam rasa, bertemu dengan calon pematah-pematah baru. Hanya mencoba menghilangkan duka, seperti malam yang menangis kepada bintang saat rembulan tak lagi datang.

Hingga aku berhasil menutup sayatan itu, mengkamuflasekan lubang dalam senyuman, mencoba tidak membubuhi garam, meski konsekuensinya aku akan dihinggapi kesunyian dan kesendirian dalam waktu yang tak bisa kuprediksikan.

Kupikir, aku tak mengapa.

Hingga akhirnya aku bisa menatap wajahmu kembali, mengusir segala rindu, dan menjelma menjadi temanmu.

Kupikir, disitu aku tak menjadi ragu dalam melupakanmu.

Kupikir, aku akan bisa merelakanmu.

Nyatanya, kau malah menjadi, mendekatiku di saat bentengku belum terkunci sempurna.

Aku tau, kau tengah diterpa prahara. Mungkin sayap kapalmu tak cukup kuat menampung beban itu.

Dan bodohnya, lagi-lagi aku membiarkan pintuku terbuka

Comments

Popular posts from this blog

Gak ada kamu, gak asyik

Flashlight Lyric - Jessie J (Original Soundtrack Pitch Perfect 2)

Terimakasih, untukmu, rembulan