Sesakku, Laraku. Sekedar untuk menjaga hatiku.
Ah sudahlah, tak ada habisnya jika aku masih tetap bertanya-tanya.Karna diam mu takkan ada ujungnya.Aku paham pengecutmu.
Sesak yang menghimpit,
tubuh yang tiba-tiba layu, inginmu untuk luruh, bergerakpun kau tak mampu,
sesuatu yang sangat mencengkram, menunggu untuk dilepaskan.
Jantung yang berpacu kencang,
seolah terhenti. Benar-benar berhenti,
sampai kau merasa waktu tak lagi berputar.
Pernahkah kau seperti
itu?
Ya, aku pernah.
Hari ini, aku
merasakannya, saat melihatmu, saat merasakan dirimu mendekat, melewatiku dan
membisu tanpa ragu.
Ya, aku merasakannya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku tak pernah seperti ini sebelumnya, sungguhpun aku merasa
sesak, kehancuranku tak pernah separah ini.
Bagaimana tidak, jika aku terus dipaksa melupakanmu,
berhenti mencintai dirimu, sedangkan setiap hari aku melihatmu di depanku.
Tersenyum, bercanda, dan tertawa.
Seterusnya seperti itu, bagaimana mungkin aku bisa
menghentikan diriku sendiri?
Sedang tatapmu yang purnama itu selalu melumpuhkan aku.
Memenjarakan kewarasanku dalam jeruji penuh pesakitan.
Aku belum pernah merasa setidak berdaya tadi. Saat kau
datang, tiba-tiba tubuhku sulit digerakkan. Napasku tercekat.
Aku panas dingin, rasanya ingin pingsan saja.
Namun kukuatkan diriku dan menyapamu. Menanyakan kabarmu,
yang mungkin saja sedang bahagia, dengan dia?
Oh tidak, jangan mengingatkanku tentang itu.
Dan tak hanya sekali itu aku merasa ingin jatuh. Kali kedua
adalah saat aku mengambil air minum di lantai dua.
Melihatmu yang begitu serius mengerjakan laporan membuatku
ingin mengusik.
Namun lidah ini bahkan terlalu kelu untuk sekedar menyapa.
Akhirnya aku hanya berjalan melewatimu dan berbincang dengan
kawan yang duduk di depanmu.
Mungkin, kau berpikir aku tengah mengabaikanmu, ah tidak,
lebih tepatnya berusaha dengan sangat keras untuk melupakan keberadaanmu.
Dan ya, aku tak pernah lihai dalam melakukannya.
Rasanya oksigen kembali ditarik keluar dari rongga dada ini.
Meski tak sesakit tadi, tetap saja aneh.
Sampai kapan keadaan canggung ini berlanjut jika aku seperti
ini terus?
Baiklah, aku menyerah, logika, bimbing aku menghadapinya.
Kalau ada syair yang bilang, “Semakin ku kejar, semakin kau
jauh.”
Itu benar.
Hanya gara-gara emot ‘wink’ ku tempo hari, pantaskah kau
mendiamkan aku?
Ah sudahlah, tak ada habisnya jika aku masih tetap bertanya-tanya.
Karna diam mu takkan ada ujungnya.
Aku paham pengecutmu.
Sore harinya, kita berkemas. Bersiap berkata sampai jumpa
hingga esok harinya.
Hujan masih mewarnai sendu sore itu. Mega di ujung sana
masih bergelayut manja pada langit yang murung.
Semuanya basah, begitupun motorku. Aku harus mengelapnya dan
menyingkirkan bulir-bulir air yang akan membasahi bajuku ini nanti.
Saat aku menoleh ke tangga, sedikit berharap kau yang
menuruninya, dan kudapati benar-benar dirimu yang muncul.
Padahal sudah kuduga dari awal, bahwa turun itu kau.
Namun agaknya hatiku masih belum siap melihatmu –lagi-.
Sontak aku tersedak coklat yang tengah kukunyah.
Sungguh tak wajar.
Jadi, taukah kau seberapa takutnya aku menatapmu kini?
Belum lagi setiap candaan-candaan kecil –yang sayangnya
disengaja- tadi sore.
Aku mendengarmu memanggilku ‘mbem’, entah bagaimana kau memandangnya,
namun aku selalu mendengarnya sebagai sebuah panggilan sayang.
Lantas apa aku salah?
Jika aku harus berhenti
mencintaimu, apakah aku juga harus berhenti tersenyum padamu? –sekedar untuk
menjaga hatiku-
Comments
Post a Comment